Episode 3: S.R.M.H
PERPISAHAN (?)
Tak terasa dua bulan lagi
kami akan menghadapi Ujian Nasional. Penentu kami lulus atau tidak dari sekolah
ini. Penentu kami akan masuk kemana setelah ini. Karena kami SMK jadi sebagian
siswa akan bekerja.
Sewaktu kami sudah di
semester genap kelas 12, banyak perusahaan-perusahaan swasta atau negeri yang
membuka lowongan pekerjaan. Tidak sedikit pula alumni sekolah kami yang sudah
diterima bekerja di perusahaan-perusahaan tersebut. Sekolah sangat bangga
dengan prestasi yang didapat oleh siswanya.
Selama dua bulan tersebut
kami mengikuti latihan tambahan atau dikenal dengan trobosan. tidak setiap hari
kami mengikuti pelajaran tambahan tersebut, kami hanya belajar 3 kali seminggu
sesuai dengan jurusan masing masing. Kebetulan jurusan TPTU dan TKR punya jadwal
yang sama. Jadi tidak akan merepotkan Ian untuk menjemputku pulang trobosan.
Kami trobosan setiap
Senin, Rabu, dan Kamis ditambah hari Sabtu trobosan praktek jurusan. Jadwal
trobosan dimulai 30 menit setelah kami pulang sekolah dan berlangsung selama
1,5 jam untuk pelajaran Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Kecuali Matematika
dan Kejuruan dilebihkan sedikit waktunya.
♥♥♥
Tibalah waktunya kami
mengikuti Uian Nasional 2015. Selama 4 hari ujian, pengawasan UN di sekolah
kami berlangsung ketat dan aman. Tidak adanya kecurangan dari siswa ataupun
guru. Kami percaya diri bahwa kami dapat menjawab soal-soal itu dengan tanpa
mencontek. Sebulan sebelum ujian beredar kunci-kunci jawaban. Tidak hanya di
sekolah kami tapi di sekolah seluruh Indonesia mungkin. Tapi untungnya sekolah
kami bertindak bijaksana dan langsung tanggap.
Untuk menghadapi ujian
nasional itu tentunya kami harus ekstra belajar dan banyak berlatih dengan
soal-soal 2 tahun di atas kami. Untungnya itu semua kami dapatkan sewaktu
trobosan.
Aturan kami mengikuti ujian nasional tersebut adalah
menurut absensi jurusan. Kelas kami dibagi 2, setengahnya berada dijurusan lain
dan setengahnya lagi gabung dengna jurusan lain pula. Kebetulan TPTU waktu itu
gabung dengan jurusan TKR. Tapi aku tidak sekelas dengan Ian. Ia berada di
kelas sebelah.
Hari pertama Ujian Nasional sangat tegang dan auranya
mencekam. Tidak tahu mengapa mungkin ini hari pertama. Pengawasnya dari sekolah
lain. Ada 2 orang pengawas di setiap kelas. 15 menit sebelum kami masuk kelas
kami dibariskan di lapangan mendengarkan ceramah kepsek. Tepat pukul 7.30 ujian
dimulai. Kami diberi pengarahan oleh pengawas bagaimana cara mengisi lembar
jawaban, sebetulnya kami sudah diajarkan juga bagaimana cara mengisi LJK ini.
Kami diberi pensil 2 B serta penghapus dan pembulat. Tapi tidak dibawa pulang.
Selesai ujian dikembalikan pada pengawas.
Ujian mata pelajaran
Bahasa Indonesia kali ini tidak sesulit yang dibayangkan. Soal-soalnya persis
dibahas sewaktu kami trobosan dulu, hanya dimodifikasi lagi oleh pembuat soal.
Akhirnya selesai ujian hari pertama.
Kami keluar pukul 10 WIB. Aku tidak langsung pulang
karena sudah kebiasan dari kelas 10 sebelum pulang kami akan nongkronng dulu di
depan gerbang hanya untuk bercengkrama dengan teman-teman. Obrolan kami seputar
soal ujian Bahasa Indonesia tadi. Ada juga yang ngobrol tentang asmara. Ya
begitulah anak sekolah kalau sudah ngumpul dengan teman-temannya.
Seperti biasanya aku
pulang dengan Ian. Tapi dia sedang mengurus sesuatu di sekolah. Sebagai ketua
osis dia sibuk menyiapkan acara liburan kami. Dia sudah bilang akan pulang agak
lama. Tapi aku ingin menunggunya. Kebetulan juga kan aku sedang bersama
teman-temanku jadi tidak begitu bosan menunggu.
Kurang lebih 2 jam kami
mengobrol diiringi canda tawa. Selama itu juga siswa yang lain satu per satu
menghilang. Menghilang maksudnya kembali ke rumah masing-masing, bukan
menghilang disembunyikan hantu seperti permainan tongkak dingin yang kalo
dimainin pas magrib datang, hehe. Tinggalah aku berdua dengan Dian. Kebetulan
Dian dijemput oleh ayahnya agak lebih lama. Di sela aku asik ngobrol dengan
Dian aku dihampiri oleh Ian. Tak butuh waktu lama dan banyak acting aku pamit
dengan Dian yang kebetulan Dian juga sudah dijemput oleh ayahnya dengan mobil
kijang inova.
“Maaf lama, Pak Har telat
datang tadi jadi ditambah waktunya.” Ucap Ian menyesal dan tersenyum dengan
manisnya. Please, jangan tersenyum.
Aku kan niatnya mau jutekkan sama kamu. Kalau kamu senyum begitu manisnya
gimana aku mau jutekkan cobak. Emosi yang tahan tadi karena menunggunya lama
lenyap seketika setelah melihat senyumnya. Aku tidak membalas ucapannya. Aku
langsung naik ke motornya.
Seperti biasa, layaknya
dia yang punya jalan. Ian mengendarai motornya dengan kencang. Tidak tahu
kenapa cowok rata-rata mengendari motor di atas kecepatan rata-rata, termasuk
Ian. Dalam perjalanan Ian mulai percakapan bertanya tentang ujian hari ini.
Karena dia yang mengendarai motor dengan badan yang agak ke depan, aku tidak
begitu dengar apa yang ditanyakannya. Otomatis aku duduk agak rapat dengannya,
dan meminta kembali mengulang pertanyaannya. Sewaktu dia menegakkan badannya aku menubruk
punggungnya, untung saja aku menabrak tas ranselnya. Tapi ada sensasi
gimana-gimana gitu, ngerti kan? Ngerti ajalah ya. Dag dig dug jantungku hamper
keluar dari dadaku. Dengan wangi cologne nya yang wangi banget, aku yakin itu
bau pelembut kain. Sudah sore masih tetap harum aja. Hemm pengen rasanya
berlama-lama dekat dengannya.
Setelah ujian kami akan
mengadakan acara perpisahan kelas 12. Rencananya acara graduation party
tersebut akan diadakan di lapangan upacara sekolah. Khusus untuk kelas 12
seminggu setelah ujian nasional itu kami akan liburan ke kota tetangga, Sumbar
tepatnya ke Pantai Cerocok, Painan. Tidak semua anak kelas 12 yang ikutan,
hanya 3 jurusan saja. Yaitu TKJ1, TKR, dan TPTU 2. Karena mengingat banyaknya
siswa kelas 12. Jadi liburan perpisahannya dibagi menjadi 3 pilihan. Pertama ke
Pantai Carocok, Sumatera Barat, lalu ke Jam Gadang, dan yang terakhir ke Kebun
Teh. Karena mayoritas pilihan siswa dikelasku ke Pantai Carocok maka kesanalah
kami akan pergi. Yee pantai. Seumur hidup aku belum pernah sekalipun ke pantai.
Inilah waktunya.
Jadi selama seminggu ini
kami panitia pelaksana dan Pembina sibuk mempersiapkan acara perpisahan nanti.
Kebetulan yang sangat tak diduga. Pasti sudah tau siapa ketua panitianya, ya
jelas dong si Ian yang menjadi ketua OSIS itu. Kalau aku menjabat sebagai
panitian acara. Tau kan yang bertugas menyusun acaranya dan menghandle acaranya
biar gak rempong. Aku terkenal dengan menyusun acara yang rapi dan tersusun,
jarang ada masalah, hehe sombong sedikit tak apalah.
Eh iya kelupaan nih, ada
satu hambatan di dalam hubungan kami. Menurut gossip yang beredar di seluruh
sekolahan, ada cewek yang naksir berat sama Ian. Aku tahunya dari si Dian, Dian
tahunya dari temen-temennya yang lain dari kelompok tari. Nama cewek itu Rani.
Anak kelas 12 juga jurusan MM, katanya cewek tercantik di kelas itu. Aku belum
pernah ketemu sih. Pengen banget deh kenal tu cewek. Lihat tampangnya aja
jadilah.
Sesuatu mengejutkan aku
dan menambah beban pikiran aku. Ternyata eh ternyata si yang katanya Rani itu
jadi sekretarisnya Ian di panitian perpisahan itu. Oh big NO!. Jadi makin
penasaran tuh sama cewek. Pas banget tuh bisa cari tahu lebih banyak tentang si
Rani karena seminggu ini bakal ketemuan terus sama dia. Tapi dia makin
kesenengan dong bisa deket terus sama Ian. Trus aku gima dong?!. Okay, don’t
worry be happy. Kita pasti bisa atasinya.
Yapp hari yang
ditunggu-tunggu akhirnya datang juga, hari ini pulang sekolah kami ada rapat di
ruang 19. Semua panitia penyelenggara ikutan. Sebelum itu di kantin, seperti
biasanya aku, Dian, dan Bayu makan di kantin. Kami biasa makan di kantin ini
kalau pulang cepat. Sebenarnya kami tidak belajar, karena UN sudah selesai dan
kami tinggal menyelesaikan tugas sekolah yang belum terkumpul dan sebagian
siswa menyelesaikan nilai mereka. Untungnya kami bertiga tidak ada masalah
dengan nilai.
Aku menceritakan semuanya
tentang rapat kami nantik dan tentang Rani yang menjadi sekretaris Ian. Sedikit
banyak Dian dan Bayu memberiku informasi tentang Rani. Ternyata Rani sudah lama
memendam cintanya pada Ian sejak kelas X. Tapi dia gak berani ungkapin cintanya
sama Ian. Gatau deh kenapa. Padahal dia banyak yang suka juga. Terakhir dia
pacaran sama anak ketua sepak bola, kakak kelas sih. Terus kabar terakhir
mereka sudah putus. Dan si Rani itu masih memendam cinta sama Ian.
Beritanya, Ian juga tau
kalau si Rani suka sama dia. Wah makin-makin aja gossip gak benernya. Mendingan
nanti aku Tanya langsung sama narasumber terpercayanya. Ya siapa lagi dong
sumbernya ya tentu si Ian itu, gak mungkin kan aku Tanya sama si cewek itu gak
kenal jugak gengsi dong. Emang aku siapanya dia. huft membingungkan aku banget.
Aku pasang muka datar waktu mereka ngegosip. Tapi dalam hati panas banget cuyy,
pengen rasanya disiram air dingin ni kepala.
Waktu yang
ditunggu-tunggu akhirnya tiba juga. Sesuai jadwal pukul 1 siang kami sudah
berada di ruang 19, ruang yang biasa buat rapat. Baik itu organisasi Pramuka,
Passus, maupun OSIS. Kadang juga guru-guru ngadain rapat di ruang itu. Selama
kami rapat, aku curi-curi pandang ngeliatin dua sejoli itu. Lah, kapan
jadiannya mereka cobak, haha. Agak panas sih waktu si Rani ngeliatin si Ian.
Tapi bagusnya Ian gak ngeliatin dia. Kasihan dikacangin gitu.
Dua jam berlalu dan tiba
waktunya kami pulang. Sudah didapat keputusan tentang rapat itu. Namun akan
diadakan briefing kembali dua hari sebelum keberangkatan. Untuk sekarang kami
bersiap untuk tugas masing-masing. mulai dari perlengkapan, dana, dan
akomodasi. Untungnya semua sudah fiks jadi kami tinggal menyiappkan keperluan
yang kecil-kecil saja. Semua bagian besar telah dibantu oleh guru kelas.
Beruntung sekali semua pihak bekerjasama.
Kami juga membawa
beberapa tenda untuk malam api unggun. Sebenarnya tenda itu sebagai pelengkap
saja. Karena di sana sudah tersedia penginapan yang terjangkau. Beruntungnya.
Tapi jauh dari yang
diperkirakan, kami rupanya tidak bisa bersantai-santai ria. Tepatnya sih ketua
dan sekretaris yang bolak-balik ke kantor guru. Contohnya hari ini mereka
sering blaok-balik. Aku ngerti sih mereka sibuk dengan acara esok. Tapi itu
sama saja memberikan mereka waktu yang intens untuk bertemu dan mengungkapkan
perasaan masing-masing. Yang mana malahan menambah kegusaran hatiku. Walaupun
aku pergi dan pulang bareng Ian.
♥♥♥
Yapp, its time to trip.
Kami akan menginap di
Pantai Carocok selama tiga hari dua malam. Hari pertama kami di perjalanan.
Hari kedua akan kami isi dengan penanaman pohon dan bersih-bersih dan malamnya
kami akan mengadakan api unggun dan diisi acara pentas seni. Esoknya kami akan
kembali ke rumah masing-masing.
Dua hari yang lalu kami sudah mengadakan briefing dan alhamdulillah berjalan
lancar. Nah, sekarang kami sudah berada di sekolah. Hari ini hari Jum’at pagi
pukul 6. Semua sudah siap. Kemarin malam kami sudah mempersiapkan semuanya
barang-barang yang akan dibawa. Jadi esoknya tinggal bawa badan ke bus cuss
berangkat.
Kami akan berangkat
menggunakan 4 bus. Karena kami berjumlah 94 orang sudah termasuk 4 orang guru
yang masing-masing akan berada di keempat bus itu. 25 orang ada di bus 1, 25
orang di bus ke-2, 25 orang lagi di bus ke-3, dan sisanya dibus terakhir. Dibus
terakhir itu diisi oleh barang-barang keperluan kemping. Seperti tenda, kayu
bakar, stok, dll.
Start dari sekolah kami akan berangkat pukul 7.30. aku dan Ian
berangkat terpisah. Karena tidak mungkin kan kalau kami berangkat berdua lalu motor dia diletakkan dimana
cobak. Jaman sekarang tidak aman, banyak kasus pencurian dan segala macam. Jadi
aku diantar oleh ayahku yang kebetulan sedang berada di rumah.
Selama perjalanan. Aku
duduk disamping Dian. Kami sadar kalau kami mabuk darat, maka dari itu kami
duduk didepan belakang supir. Katanya tidak akan mabuk darat kalau duduk di
depan. Selama aku naik bus pulang ke kampong halaman mamak aku memang cari
kusri yang didepan dan mabuk darat sepanjang perjalanan. Tapi kali ini aku akan
mencoba kembali. Semoga saja tidak akan terjadi. Kan malu udah gede masih mabuk
perjalanan. Dan harus punya fisik yang kuat kalau melakukan perjalanan jauh
ini. Obat-batan sudah siap sedia dan aku juga tidak lupa harus mengkonsumsi obat itu. Sebagai orang yang sakit harus
taat kan tidak boleh bandel kalau mau sembuh.
Akhirnya setelah seharian
perjalanan kami tiba juga di tempat tujuan. Kami tiba sudah menjelang sore. Dan
langsung mendirikan tenda. Malamnya kami akan makan malam dan briefing kembali
perihal acara besok. Jadi bisa istirahat malam ini. Ternyata mitos ntah apa itu
namanya, memang betul kalua duduk di depan tidak akan muntah. Aku sudah
buktikan dan aku tidak mabuk darat, yee. Bisa dapat reward nih akunya. Haha
ngarep. Ehh iya aku tidak sempat mikirin Ian selama perjalanan. Aku asik tidur
dan Dian juga. Sedangkan anak yang lain heboh membuat suasana bus jadi rame
dengna suara mereka yang pas-pasan diiringi permainan gitar si Yoga.
Setelah sampai kami
langsung menata barang-barang kami di tempat yang sudah disediakan dan lanjut
ishoma (istirahat, sholat, makan). Seperti biasa orang tua yang khawatir pada
anaknya, mamakku sms bertanya sudah sampai apa belum, barang-barang diperiksa
jangan sampai tertinggal dan hilang, ya semacam itulah.
Aku baru periksa
handphone setelah aku siap ishoma. Begitu buka handphone banyak sms masuk, tapi
tidak satupun sms dari si cowok itu tuh. Huh sebel, tapi yasudahlah mungkin ia
lelah. Sepp, kita omongin itu nantik. Sekarang waktunya tidur.
Pagi hari kami dimulai
dengan kunjungan ke pantai carocok dan ikut bersih-bersih. Setelah itu
penanaman pohon bakau di sekitar pantai dan bermain air. Kami menginap tidak
jauh dari pantai itu jadi angin pantai bisa kami rasakan deburan ombak juga
terdengar. Pantainya begitu indah dengan pasir putih dan airnya yang jernih
kalau dilihat seperti warna biru tapi aslinya memang jernih. Aku sangat takjub
melihatnya.
Setelah selesai kegiatan,
kami dibolehkan bermain banana boot, berenang,
dan foto-foto tentunya. Dan selama hari itu juga aku badmood. Karena lihat adegan seperti di drama-drama Korea
kesukaanku itu. Tapi untungnya ada Chiko yang menghiburku. Dia datang dan
menawarkan diri menemani hatiku yang gundah gulana.
“Eh Ay, kok gak
seneng-seneng? Yok berenang?” ajak Chiko. Aku yang diam saja tanpa aba-aba
tanganku sudah ditarik oleh Chiko dan membawaku ke tepi pantai, dia
mencipratkan air laut ke wajahku. Sontak aku terkejut dan kesal. Aku balas
mencipratkan air ke wajahnya. Dan inilah kami basah-basah main ciprat-cipratan
air. Tak terasa hatiku yang tadinya gegana kini meluap tak terasa. Yah, sejenak
terlupa dengan kejadian yang aku barusan lihat tadi.
Hari tak terasa cepat
berlalu. Kini tibalah malam puncak. Kami sudah bersiap-siap akan berpesta malam
ini. Api unggun telah menunggu untuk dikelilingi dan dibuat membara. Kami cukup
senang malam itu. Kegiatan awal kami buka dengan makan bersama dalam satu tatanan
dari daun pisang, sungguh kebersamaan. Lalu kami menyaksikan pentas seni yang
paling banyak diisi dengan menghabiskan suara. Itu sih sebagai hukuman kalau
kalah dalam games yang diberikan.
Kalau kalian mengira
kejadian yang sedang terjadi ini adalah rekayasa, sepenuhnya adalah salah. Aku
tidak habis pikir akan mendapat hukuman dari game yang aku gak bisa
menangkan. Padahal aku tidak pernah
kalah kalau bermain. Waktunya aku menerima hukumanku. Aku disuruh bernyanyi
lagu anak-anak yang huruf vocalnya diganti dengan huruf o, alhasil nanti
mulutku yang cantik ini berubah monyong. Aku menyanyikan lagu potong bebek
angsa dengan vocal o. Dapat dibayangkan.
Kami terbuai dengan malam
yang indah sekaligus menyenangkan itu. Di sela acara juga guru berpesan kepada
kami untuk melanjutkan pendidikan dan jangan putus harapan, mendapatkan
pekerjaan yang layak, dan untuk sukses kedepannya.
Ada cerita menarik
sewaktu aku selesai bernyanyi itu. Chiko memberikan seikat bunga plastik padaku
katanya sebagai tanda penghargaan. Cukup manis. Aku tidak tahu dia mendapatkan
bunga itu dari mana. Tapi semua mata memandangku. Menggoda. Aku sempat melirik
ke arah Ian. Terkejut dan tidak terima. Heran dengan perubahan suasana hatinya
yang sebelumnya menikmati malam ini.
Pagi hari kami sudah
meninggalkan tempat yang indah itu. Pengen kembali lagi ke sana. Mungkin di
lain waktu. Selama perjalanan pulang, meratapi waktu yang tiga hari ini
berkumpul dengan teman-teman. Pikirku mungkin tidak aka nada lagi saat seperti
ini. Nantinya akan sibuk dengan urusan masing-masing. Sedih dan senang yang
kami rasakan.
♥♥♥
Inilah akhir dari
perjalanan kami selama menempuh pendidikan dua belas tahun. Nantinya tidak akan
sama lagi. Akan ada masa yang sudah menunggu di depan kami. Mereka yang sudah
belajar dan bekerja keras akan baik nasibnya. Begitu juga sebaliknya. Namun ada
masa kebalikan dari itu semua, tergantung bagaimana kita menyikapinya. Duh,
apalagi yang aku bicarain nih. Abaikan.
Dag dig dug. Suara jantung siapakah itu. Aku, kamu, dia,
atau mereka? Tentunya itu suara jantung anak-anak manusia yang sedang menunggu.
Menunggu eksekusi. Eksekusi lulus atau tidak. Alias menunggu pengumuman
kelulusan hasil Ujian Nasiona.
Gugup, cemas, khawatir tergambar di raut wajah mereka.
Terlebih aku. Harap-harap cemas menunggu. Sudah sejak pukul 2 siang kami
menunggu di lapangan ini. Sekarang kami sudah menunggu selama dua jam. Lelah
dan gelisah menunggu di sini di tengah lapangan, tempat yang kau janjikan. Ehh
seperti lagu deh, hehe.
Benar-benar bosan dan semakin menambah kekhawatiran di
muka kami semua. Kenapa begitu lama sekali. Janjian pukul 2 tetapi sudah 2 jam
diundur. Memang sih kami tahu ini semua untuk menakuti-nakuti kami. Di seluruh
Indonesia sudah keluar pengumumannya, tapi kenapa giliran sekolah kami belum.
Ayo dong pak kepsek lekas umumkan.
Tenggg, kertas polos pesegi panjang itu akhirnya
dibagikan satu-pesatu pada kami. Setelah semua dapat sesuai dengan nama
masing-masing. tepat pukul 4.30 sore dengan bismillah diiringi oleh pak kepsek,
kertas itu kami buka dengan semangat dan muka cemas. BISMILLAAHIRRAHMAANIRRAHIIM!!!
ucap kami serentak.
♥♥♥
Titt titt titt suara mesin
pengetes jantung berbunyi. Suaranya terdengar beraturan. Menandakan kondisi
pasien stabil. Tapi siapa yang menyangka aku sudah terbaring selama tiga hari
di sini. Alat bantu oksigen masih menempel di mulut dan hidungku. Infus
menancap dipergelangan tangan kiriku. Menjaga aku tetap dalam kondisi stabil
dan ternutrisi. Kain putih mellilit disepanjang kepalaku. Jujur kejadian itu begitu
cepat. Aku tidak begitu yakin apakah aku akan bangun. Apakah aku bangun dan
melihat dunia lagi atau bangun di tempat yang baru?. Kita akan tahu nanti.
Lulus. Ya begitulah yang tertulis di kertas putih panjang
itu. Senang dan terharu. Akhirnya tidak sia-sia perjuangan selama tiga tahun
ini. 100 persen kami dinyatakan lulus oleh dinas pendidikan. Sekolah kami
memang turun temurun menjadi sekolah terbaik dan tiap tahunnya hampir 100
persen lulus Ujian Nasional. Namun kali ini kelulusan juga dinilai dari nilai
sekolah.
Semarak hari kelulusan nampak dari pawai anak sekolahan
di jalan. Mereka biasanya akan berkumpul ditempat luas dan mencoret coret baju
mereka. Menghabiskan waktu dengan bersenang senang akibat kelulusan.
Beda dengan sekolah kami yang tidak memperbolehkan
siswanya untuk coret-coret baju. Baju sekolah itu akan dibawa nanti pada
pengambilan ijazah. Yang akan disumbangkan kepada yang berhak. Nah, untuk
solusi itu semua kami datang ke sekolah memakai baju kaos putih polos yang
untuk dicoret suka hati. Dan kami tidak diperbolehkan untuk pawai. Jadi
disinilah kami sekarang, di lapangan sekolah yang luas kami bersama-sama
menumpahkan kreatifitas.
Puas bercoret-coret ria. Kami pulang ke rumah
masing-masing. Aku pulang dengan Ian. Yah, sedih sih karena ini juga terakhir
kalinya kami bertemu. Sewaktu coret-coret tadi, Ian menghampiriku dan
mengucapkan selamat dan membubuhkan tanda tangannya di kaos belakang bajuku.
Mungkin tidak hanya tanda tangan aku rasa karena dia sepertinya menuliskan
kata-kata. Aku tidak tahu apa itu.
Hening. Untuk terakhir kalinya aku ingin egois. Aku ingin
sebentar saja memeluknya. Menghirup
aromanya segar seperti bau sabun. Mengeratkan pelukanku di pinggangnya yang
ramping. Tak ingin dia lepas. Kalau bisa aku ingin membawanya selalu di dalam
tasku.
Sinar terang itu menyilaukan mata kami diiringin bunyi
klakson yang aku tau itu berasal dari truk di depan kami. Oleng. Dan kami
jatuh ke tepi jalan. Samar-samar aku
mendengar orang memanggil namaku. Gelap mengambil tempatnya. Memudarkan
pandanganku yang samar-samar melihat Ian berlali ke arahku. Titik titik hujan
menghantam wajahku. Dan titik-titik itu menjadi deras. Hujan di malam hari.
Komentar
Posting Komentar
Life is short. There is no time to leave important words unsaid [Japanese Proverb]