Episode 3: S.R.M.H



PERPISAHAN (?)
Tak terasa dua bulan lagi kami akan menghadapi Ujian Nasional. Penentu kami lulus atau tidak dari sekolah ini. Penentu kami akan masuk kemana setelah ini. Karena kami SMK jadi sebagian siswa akan bekerja.
Sewaktu kami sudah di semester genap kelas 12, banyak perusahaan-perusahaan swasta atau negeri yang membuka lowongan pekerjaan. Tidak sedikit pula alumni sekolah kami yang sudah diterima bekerja di perusahaan-perusahaan tersebut. Sekolah sangat bangga dengan prestasi yang didapat oleh siswanya.
Selama dua bulan tersebut kami mengikuti latihan tambahan atau dikenal dengan trobosan. tidak setiap hari kami mengikuti pelajaran tambahan tersebut, kami hanya belajar 3 kali seminggu sesuai dengan jurusan masing masing. Kebetulan jurusan TPTU dan TKR punya jadwal yang sama. Jadi tidak akan merepotkan Ian untuk menjemputku pulang trobosan.
Kami trobosan setiap Senin, Rabu, dan Kamis ditambah hari Sabtu trobosan praktek jurusan. Jadwal trobosan dimulai 30 menit setelah kami pulang sekolah dan berlangsung selama 1,5 jam untuk pelajaran Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Kecuali Matematika dan Kejuruan dilebihkan sedikit waktunya.
♥♥♥
Tibalah waktunya kami mengikuti Uian Nasional 2015. Selama 4 hari ujian, pengawasan UN di sekolah kami berlangsung ketat dan aman. Tidak adanya kecurangan dari siswa ataupun guru. Kami percaya diri bahwa kami dapat menjawab soal-soal itu dengan tanpa mencontek. Sebulan sebelum ujian beredar kunci-kunci jawaban. Tidak hanya di sekolah kami tapi di sekolah seluruh Indonesia mungkin. Tapi untungnya sekolah kami bertindak bijaksana dan langsung tanggap.
Untuk menghadapi ujian nasional itu tentunya kami harus ekstra belajar dan banyak berlatih dengan soal-soal 2 tahun di atas kami. Untungnya itu semua kami dapatkan sewaktu trobosan.
            Aturan kami mengikuti ujian nasional tersebut adalah menurut absensi jurusan. Kelas kami dibagi 2, setengahnya berada dijurusan lain dan setengahnya lagi gabung dengna jurusan lain pula. Kebetulan TPTU waktu itu gabung dengan jurusan TKR. Tapi aku tidak sekelas dengan Ian. Ia berada di kelas sebelah.
            Hari pertama Ujian Nasional sangat tegang dan auranya mencekam. Tidak tahu mengapa mungkin ini hari pertama. Pengawasnya dari sekolah lain. Ada 2 orang pengawas di setiap kelas. 15 menit sebelum kami masuk kelas kami dibariskan di lapangan mendengarkan ceramah kepsek. Tepat pukul 7.30 ujian dimulai. Kami diberi pengarahan oleh pengawas bagaimana cara mengisi lembar jawaban, sebetulnya kami sudah diajarkan juga bagaimana cara mengisi LJK ini. Kami diberi pensil 2 B serta penghapus dan pembulat. Tapi tidak dibawa pulang. Selesai ujian dikembalikan pada pengawas.
Ujian mata pelajaran Bahasa Indonesia kali ini tidak sesulit yang dibayangkan. Soal-soalnya persis dibahas sewaktu kami trobosan dulu, hanya dimodifikasi lagi oleh pembuat soal. Akhirnya selesai ujian hari pertama.
            Kami keluar pukul 10 WIB. Aku tidak langsung pulang karena sudah kebiasan dari kelas 10 sebelum pulang kami akan nongkronng dulu di depan gerbang hanya untuk bercengkrama dengan teman-teman. Obrolan kami seputar soal ujian Bahasa Indonesia tadi. Ada juga yang ngobrol tentang asmara. Ya begitulah anak sekolah kalau sudah ngumpul dengan teman-temannya.
Seperti biasanya aku pulang dengan Ian. Tapi dia sedang mengurus sesuatu di sekolah. Sebagai ketua osis dia sibuk menyiapkan acara liburan kami. Dia sudah bilang akan pulang agak lama. Tapi aku ingin menunggunya. Kebetulan juga kan aku sedang bersama teman-temanku jadi tidak begitu bosan menunggu.
Kurang lebih 2 jam kami mengobrol diiringi canda tawa. Selama itu juga siswa yang lain satu per satu menghilang. Menghilang maksudnya kembali ke rumah masing-masing, bukan menghilang disembunyikan hantu seperti permainan tongkak dingin yang kalo dimainin pas magrib datang, hehe. Tinggalah aku berdua dengan Dian. Kebetulan Dian dijemput oleh ayahnya agak lebih lama. Di sela aku asik ngobrol dengan Dian aku dihampiri oleh Ian. Tak butuh waktu lama dan banyak acting aku pamit dengan Dian yang kebetulan Dian juga sudah dijemput oleh ayahnya dengan mobil kijang inova.
“Maaf lama, Pak Har telat datang tadi jadi ditambah waktunya.” Ucap Ian menyesal dan tersenyum dengan manisnya. Please, jangan tersenyum. Aku kan niatnya mau jutekkan sama kamu. Kalau kamu senyum begitu manisnya gimana aku mau jutekkan cobak. Emosi yang tahan tadi karena menunggunya lama lenyap seketika setelah melihat senyumnya. Aku tidak membalas ucapannya. Aku langsung naik ke motornya.
Seperti biasa, layaknya dia yang punya jalan. Ian mengendarai motornya dengan kencang. Tidak tahu kenapa cowok rata-rata mengendari motor di atas kecepatan rata-rata, termasuk Ian. Dalam perjalanan Ian mulai percakapan bertanya tentang ujian hari ini. Karena dia yang mengendarai motor dengan badan yang agak ke depan, aku tidak begitu dengar apa yang ditanyakannya. Otomatis aku duduk agak rapat dengannya, dan meminta kembali mengulang pertanyaannya.  Sewaktu dia menegakkan badannya aku menubruk punggungnya, untung saja aku menabrak tas ranselnya. Tapi ada sensasi gimana-gimana gitu, ngerti kan? Ngerti ajalah ya. Dag dig dug jantungku hamper keluar dari dadaku. Dengan wangi cologne nya yang wangi banget, aku yakin itu bau pelembut kain. Sudah sore masih tetap harum aja. Hemm pengen rasanya berlama-lama dekat dengannya.
Setelah ujian kami akan mengadakan acara perpisahan kelas 12. Rencananya acara graduation party tersebut akan diadakan di lapangan upacara sekolah. Khusus untuk kelas 12 seminggu setelah ujian nasional itu kami akan liburan ke kota tetangga, Sumbar tepatnya ke Pantai Cerocok, Painan. Tidak semua anak kelas 12 yang ikutan, hanya 3 jurusan saja. Yaitu TKJ1, TKR, dan TPTU 2. Karena mengingat banyaknya siswa kelas 12. Jadi liburan perpisahannya dibagi menjadi 3 pilihan. Pertama ke Pantai Carocok, Sumatera Barat, lalu ke Jam Gadang, dan yang terakhir ke Kebun Teh. Karena mayoritas pilihan siswa dikelasku ke Pantai Carocok maka kesanalah kami akan pergi. Yee pantai. Seumur hidup aku belum pernah sekalipun ke pantai. Inilah waktunya.
Jadi selama seminggu ini kami panitia pelaksana dan Pembina sibuk mempersiapkan acara perpisahan nanti. Kebetulan yang sangat tak diduga. Pasti sudah tau siapa ketua panitianya, ya jelas dong si Ian yang menjadi ketua OSIS itu. Kalau aku menjabat sebagai panitian acara. Tau kan yang bertugas menyusun acaranya dan menghandle acaranya biar gak rempong. Aku terkenal dengan menyusun acara yang rapi dan tersusun, jarang ada masalah, hehe sombong sedikit tak apalah.
Eh iya kelupaan nih, ada satu hambatan di dalam hubungan kami. Menurut gossip yang beredar di seluruh sekolahan, ada cewek yang naksir berat sama Ian. Aku tahunya dari si Dian, Dian tahunya dari temen-temennya yang lain dari kelompok tari. Nama cewek itu Rani. Anak kelas 12 juga jurusan MM, katanya cewek tercantik di kelas itu. Aku belum pernah ketemu sih. Pengen banget deh kenal tu cewek. Lihat tampangnya aja jadilah.
Sesuatu mengejutkan aku dan menambah beban pikiran aku. Ternyata eh ternyata si yang katanya Rani itu jadi sekretarisnya Ian di panitian perpisahan itu. Oh big NO!. Jadi makin penasaran tuh sama cewek. Pas banget tuh bisa cari tahu lebih banyak tentang si Rani karena seminggu ini bakal ketemuan terus sama dia. Tapi dia makin kesenengan dong bisa deket terus sama Ian. Trus aku gima dong?!. Okay, don’t worry be happy. Kita pasti bisa atasinya.
Yapp hari yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga, hari ini pulang sekolah kami ada rapat di ruang 19. Semua panitia penyelenggara ikutan. Sebelum itu di kantin, seperti biasanya aku, Dian, dan Bayu makan di kantin. Kami biasa makan di kantin ini kalau pulang cepat. Sebenarnya kami tidak belajar, karena UN sudah selesai dan kami tinggal menyelesaikan tugas sekolah yang belum terkumpul dan sebagian siswa menyelesaikan nilai mereka. Untungnya kami bertiga tidak ada masalah dengan nilai.

Aku menceritakan semuanya tentang rapat kami nantik dan tentang Rani yang menjadi sekretaris Ian. Sedikit banyak Dian dan Bayu memberiku informasi tentang Rani. Ternyata Rani sudah lama memendam cintanya pada Ian sejak kelas X. Tapi dia gak berani ungkapin cintanya sama Ian. Gatau deh kenapa. Padahal dia banyak yang suka juga. Terakhir dia pacaran sama anak ketua sepak bola, kakak kelas sih. Terus kabar terakhir mereka sudah putus. Dan si Rani itu masih memendam cinta sama Ian.
Beritanya, Ian juga tau kalau si Rani suka sama dia. Wah makin-makin aja gossip gak benernya. Mendingan nanti aku Tanya langsung sama narasumber terpercayanya. Ya siapa lagi dong sumbernya ya tentu si Ian itu, gak mungkin kan aku Tanya sama si cewek itu gak kenal jugak gengsi dong. Emang aku siapanya dia. huft membingungkan aku banget. Aku pasang muka datar waktu mereka ngegosip. Tapi dalam hati panas banget cuyy, pengen rasanya disiram air dingin ni kepala.
Waktu yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba juga. Sesuai jadwal pukul 1 siang kami sudah berada di ruang 19, ruang yang biasa buat rapat. Baik itu organisasi Pramuka, Passus, maupun OSIS. Kadang juga guru-guru ngadain rapat di ruang itu. Selama kami rapat, aku curi-curi pandang ngeliatin dua sejoli itu. Lah, kapan jadiannya mereka cobak, haha. Agak panas sih waktu si Rani ngeliatin si Ian. Tapi bagusnya Ian gak ngeliatin dia. Kasihan dikacangin gitu.
Dua jam berlalu dan tiba waktunya kami pulang. Sudah didapat keputusan tentang rapat itu. Namun akan diadakan briefing kembali dua hari sebelum keberangkatan. Untuk sekarang kami bersiap untuk tugas masing-masing. mulai dari perlengkapan, dana, dan akomodasi. Untungnya semua sudah fiks jadi kami tinggal menyiappkan keperluan yang kecil-kecil saja. Semua bagian besar telah dibantu oleh guru kelas. Beruntung sekali semua pihak bekerjasama.
Kami juga membawa beberapa tenda untuk malam api unggun. Sebenarnya tenda itu sebagai pelengkap saja. Karena di sana sudah tersedia penginapan yang terjangkau. Beruntungnya.
Tapi jauh dari yang diperkirakan, kami rupanya tidak bisa bersantai-santai ria. Tepatnya sih ketua dan sekretaris yang bolak-balik ke kantor guru. Contohnya hari ini mereka sering blaok-balik. Aku ngerti sih mereka sibuk dengan acara esok. Tapi itu sama saja memberikan mereka waktu yang intens untuk bertemu dan mengungkapkan perasaan masing-masing. Yang mana malahan menambah kegusaran hatiku. Walaupun aku pergi dan pulang bareng Ian.
♥♥♥
Yapp, its time to trip.
Kami akan menginap di Pantai Carocok selama tiga hari dua malam. Hari pertama kami di perjalanan. Hari kedua akan kami isi dengan penanaman pohon dan bersih-bersih dan malamnya kami akan mengadakan api unggun dan diisi acara pentas seni. Esoknya kami akan kembali ke rumah masing-masing.
            Dua hari yang lalu kami sudah mengadakan briefing dan alhamdulillah berjalan lancar. Nah, sekarang kami sudah berada di sekolah. Hari ini hari Jum’at pagi pukul 6. Semua sudah siap. Kemarin malam kami sudah mempersiapkan semuanya barang-barang yang akan dibawa. Jadi esoknya tinggal bawa badan ke bus cuss berangkat.
Kami akan berangkat menggunakan 4 bus. Karena kami berjumlah 94 orang sudah termasuk 4 orang guru yang masing-masing akan berada di keempat bus itu. 25 orang ada di bus 1, 25 orang di bus ke-2, 25 orang lagi di bus ke-3, dan sisanya dibus terakhir. Dibus terakhir itu diisi oleh barang-barang keperluan kemping. Seperti tenda, kayu bakar, stok, dll.
Start dari sekolah kami akan berangkat pukul 7.30. aku dan Ian berangkat terpisah. Karena tidak mungkin kan kalau kami berangkat  berdua lalu motor dia diletakkan dimana cobak. Jaman sekarang tidak aman, banyak kasus pencurian dan segala macam. Jadi aku diantar oleh ayahku yang kebetulan sedang berada di rumah.
Selama perjalanan. Aku duduk disamping Dian. Kami sadar kalau kami mabuk darat, maka dari itu kami duduk didepan belakang supir. Katanya tidak akan mabuk darat kalau duduk di depan. Selama aku naik bus pulang ke kampong halaman mamak aku memang cari kusri yang didepan dan mabuk darat sepanjang perjalanan. Tapi kali ini aku akan mencoba kembali. Semoga saja tidak akan terjadi. Kan malu udah gede masih mabuk perjalanan. Dan harus punya fisik yang kuat kalau melakukan perjalanan jauh ini. Obat-batan sudah siap sedia dan aku juga tidak lupa harus mengkonsumsi obat itu. Sebagai orang yang sakit harus taat kan tidak boleh bandel kalau mau sembuh.
Akhirnya setelah seharian perjalanan kami tiba juga di tempat tujuan. Kami tiba sudah menjelang sore. Dan langsung mendirikan tenda. Malamnya kami akan makan malam dan briefing kembali perihal acara besok. Jadi bisa istirahat malam ini. Ternyata mitos ntah apa itu namanya, memang betul kalua duduk di depan tidak akan muntah. Aku sudah buktikan dan aku tidak mabuk darat, yee. Bisa dapat reward nih akunya. Haha ngarep. Ehh iya aku tidak sempat mikirin Ian selama perjalanan. Aku asik tidur dan Dian juga. Sedangkan anak yang lain heboh membuat suasana bus jadi rame dengna suara mereka yang pas-pasan diiringi permainan gitar si Yoga.
Setelah sampai kami langsung menata barang-barang kami di tempat yang sudah disediakan dan lanjut ishoma (istirahat, sholat, makan). Seperti biasa orang tua yang khawatir pada anaknya, mamakku sms bertanya sudah sampai apa belum, barang-barang diperiksa jangan sampai tertinggal dan hilang, ya semacam itulah.
Aku baru periksa handphone setelah aku siap ishoma. Begitu buka handphone banyak sms masuk, tapi tidak satupun sms dari si cowok itu tuh. Huh sebel, tapi yasudahlah mungkin ia lelah. Sepp, kita omongin itu nantik. Sekarang waktunya tidur.
Pagi hari kami dimulai dengan kunjungan ke pantai carocok dan ikut bersih-bersih. Setelah itu penanaman pohon bakau di sekitar pantai dan bermain air. Kami menginap tidak jauh dari pantai itu jadi angin pantai bisa kami rasakan deburan ombak juga terdengar. Pantainya begitu indah dengan pasir putih dan airnya yang jernih kalau dilihat seperti warna biru tapi aslinya memang jernih. Aku sangat takjub melihatnya.
Setelah selesai kegiatan, kami dibolehkan bermain banana boot, berenang, dan foto-foto tentunya. Dan selama hari itu juga aku badmood. Karena lihat adegan seperti di drama-drama Korea kesukaanku itu. Tapi untungnya ada Chiko yang menghiburku. Dia datang dan menawarkan diri menemani hatiku yang gundah gulana.
“Eh Ay, kok gak seneng-seneng? Yok berenang?” ajak Chiko. Aku yang diam saja tanpa aba-aba tanganku sudah ditarik oleh Chiko dan membawaku ke tepi pantai, dia mencipratkan air laut ke wajahku. Sontak aku terkejut dan kesal. Aku balas mencipratkan air ke wajahnya. Dan inilah kami basah-basah main ciprat-cipratan air. Tak terasa hatiku yang tadinya gegana kini meluap tak terasa. Yah, sejenak terlupa dengan kejadian yang aku barusan lihat tadi.
Hari tak terasa cepat berlalu. Kini tibalah malam puncak. Kami sudah bersiap-siap akan berpesta malam ini. Api unggun telah menunggu untuk dikelilingi dan dibuat membara. Kami cukup senang malam itu. Kegiatan awal kami buka dengan makan bersama dalam satu tatanan dari daun pisang, sungguh kebersamaan. Lalu kami menyaksikan pentas seni yang paling banyak diisi dengan menghabiskan suara. Itu sih sebagai hukuman kalau kalah dalam games yang diberikan.
Kalau kalian mengira kejadian yang sedang terjadi ini adalah rekayasa, sepenuhnya adalah salah. Aku tidak habis pikir akan mendapat hukuman dari game yang aku gak bisa menangkan.  Padahal aku tidak pernah kalah kalau bermain. Waktunya aku menerima hukumanku. Aku disuruh bernyanyi lagu anak-anak yang huruf vocalnya diganti dengan huruf o, alhasil nanti mulutku yang cantik ini berubah monyong. Aku menyanyikan lagu potong bebek angsa dengan vocal o. Dapat dibayangkan.
Kami terbuai dengan malam yang indah sekaligus menyenangkan itu. Di sela acara juga guru berpesan kepada kami untuk melanjutkan pendidikan dan jangan putus harapan, mendapatkan pekerjaan yang layak, dan untuk sukses kedepannya.
Ada cerita menarik sewaktu aku selesai bernyanyi itu. Chiko memberikan seikat bunga plastik padaku katanya sebagai tanda penghargaan. Cukup manis. Aku tidak tahu dia mendapatkan bunga itu dari mana. Tapi semua mata memandangku. Menggoda. Aku sempat melirik ke arah Ian. Terkejut dan tidak terima. Heran dengan perubahan suasana hatinya yang sebelumnya menikmati malam ini.
Pagi hari kami sudah meninggalkan tempat yang indah itu. Pengen kembali lagi ke sana. Mungkin di lain waktu. Selama perjalanan pulang, meratapi waktu yang tiga hari ini berkumpul dengan teman-teman. Pikirku mungkin tidak aka nada lagi saat seperti ini. Nantinya akan sibuk dengan urusan masing-masing. Sedih dan senang yang kami rasakan.
♥♥♥
Inilah akhir dari perjalanan kami selama menempuh pendidikan dua belas tahun. Nantinya tidak akan sama lagi. Akan ada masa yang sudah menunggu di depan kami. Mereka yang sudah belajar dan bekerja keras akan baik nasibnya. Begitu juga sebaliknya. Namun ada masa kebalikan dari itu semua, tergantung bagaimana kita menyikapinya. Duh, apalagi yang aku bicarain nih. Abaikan.
            Dag dig dug. Suara jantung siapakah itu. Aku, kamu, dia, atau mereka? Tentunya itu suara jantung anak-anak manusia yang sedang menunggu. Menunggu eksekusi. Eksekusi lulus atau tidak. Alias menunggu pengumuman kelulusan hasil Ujian Nasiona.
            Gugup, cemas, khawatir tergambar di raut wajah mereka. Terlebih aku. Harap-harap cemas menunggu. Sudah sejak pukul 2 siang kami menunggu di lapangan ini. Sekarang kami sudah menunggu selama dua jam. Lelah dan gelisah menunggu di sini di tengah lapangan, tempat yang kau janjikan. Ehh seperti lagu deh, hehe.
            Benar-benar bosan dan semakin menambah kekhawatiran di muka kami semua. Kenapa begitu lama sekali. Janjian pukul 2 tetapi sudah 2 jam diundur. Memang sih kami tahu ini semua untuk menakuti-nakuti kami. Di seluruh Indonesia sudah keluar pengumumannya, tapi kenapa giliran sekolah kami belum. Ayo dong pak kepsek lekas umumkan.
            Tenggg, kertas polos pesegi panjang itu akhirnya dibagikan satu-pesatu pada kami. Setelah semua dapat sesuai dengan nama masing-masing. tepat pukul 4.30 sore dengan bismillah diiringi oleh pak kepsek, kertas itu kami buka dengan semangat dan muka cemas. BISMILLAAHIRRAHMAANIRRAHIIM!!! ucap kami serentak.
♥♥♥
Titt titt titt suara mesin pengetes jantung berbunyi. Suaranya terdengar beraturan. Menandakan kondisi pasien stabil. Tapi siapa yang menyangka aku sudah terbaring selama tiga hari di sini. Alat bantu oksigen masih menempel di mulut dan hidungku. Infus menancap dipergelangan tangan kiriku. Menjaga aku tetap dalam kondisi stabil dan ternutrisi. Kain putih mellilit disepanjang kepalaku. Jujur kejadian itu begitu cepat. Aku tidak begitu yakin apakah aku akan bangun. Apakah aku bangun dan melihat dunia lagi atau bangun di tempat yang baru?. Kita akan tahu nanti.
            Lulus. Ya begitulah yang tertulis di kertas putih panjang itu. Senang dan terharu. Akhirnya tidak sia-sia perjuangan selama tiga tahun ini. 100 persen kami dinyatakan lulus oleh dinas pendidikan. Sekolah kami memang turun temurun menjadi sekolah terbaik dan tiap tahunnya hampir 100 persen lulus Ujian Nasional. Namun kali ini kelulusan juga dinilai dari nilai sekolah.
            Semarak hari kelulusan nampak dari pawai anak sekolahan di jalan. Mereka biasanya akan berkumpul ditempat luas dan mencoret coret baju mereka. Menghabiskan waktu dengan bersenang senang akibat kelulusan.
            Beda dengan sekolah kami yang tidak memperbolehkan siswanya untuk coret-coret baju. Baju sekolah itu akan dibawa nanti pada pengambilan ijazah. Yang akan disumbangkan kepada yang berhak. Nah, untuk solusi itu semua kami datang ke sekolah memakai baju kaos putih polos yang untuk dicoret suka hati. Dan kami tidak diperbolehkan untuk pawai. Jadi disinilah kami sekarang, di lapangan sekolah yang luas kami bersama-sama menumpahkan kreatifitas.
            Puas bercoret-coret ria. Kami pulang ke rumah masing-masing. Aku pulang dengan Ian. Yah, sedih sih karena ini juga terakhir kalinya kami bertemu. Sewaktu coret-coret tadi, Ian menghampiriku dan mengucapkan selamat dan membubuhkan tanda tangannya di kaos belakang bajuku. Mungkin tidak hanya tanda tangan aku rasa karena dia sepertinya menuliskan kata-kata. Aku tidak tahu apa itu.
            Hening. Untuk terakhir kalinya aku ingin egois. Aku ingin sebentar saja  memeluknya. Menghirup aromanya segar seperti bau sabun. Mengeratkan pelukanku di pinggangnya yang ramping. Tak ingin dia lepas. Kalau bisa aku ingin membawanya selalu di dalam tasku.
            Sinar terang itu menyilaukan mata kami diiringin bunyi klakson yang aku tau itu berasal dari truk di depan kami. Oleng. Dan kami jatuh  ke tepi jalan. Samar-samar aku mendengar orang memanggil namaku. Gelap mengambil tempatnya. Memudarkan pandanganku yang samar-samar melihat Ian berlali ke arahku. Titik titik hujan menghantam wajahku. Dan titik-titik itu menjadi deras. Hujan di malam hari.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Definition LIiterature According to Experts

Part of Pure Linguistics - Morphology

Definition of Prose According to Expert