Episode 2: S.R.M.H
Petir di Siang Bolong (?)
Hari minggu adalah hari
kebebasan bagi anak sekolah. Waktu yang tepat untuk bersantai setelah 6 hari
sibuk dengan aktivitas sekolah. Biasanya hari libur ini dihabiskan oleh mereka
untuk pergi hunting atau berlibur dengan keluarganya. Dan bagi aku, hari minggu
adalah waktunya tidur seharian setelah tugas rumah selesai pastinya.
Bagiku semua hari sama
saja, bangun pukul 5 subuh, mengerjakan apa yang perlu dikerjakan. Seakan
terbiasa dengan keseharianku itu tidak menghambat waktu istirahatku apalagi
kalau lagi banyak tugas sekolah.
Terbiasa bangun pagi
mengecek handphone. Perasaan gelenyar-gelenyar aneh itu datang ketika aku
membaca bbman dari Ian. Gak biasanya hari ini dia ngajak aku keluar, gak tahu
ada angin apa, tiba-tiba ada dia bbman ngajak keluar jalan2 katanya. Akupun gtw
langsung saja aku terima tawarannya. Dengan santai aku balas ‘ya’. Seperti akan
terbang ketika Ian mengajak aku keluar, apakah ini yang namanya kencan?.
Sejak kejadian kerusupan
missal itu, hubungan aku dengan Ian mulai dekat, sering bbman walau chatting hanya membahas tentang
organisasi, tugas sekolah, dan tugas sekolah. Pokoknya tidak ada spesial gitu,
ntah lah ya megapa. Emangnya aku mengharapkan apa cobak, toh nantik ketahuan
juga perasaan itu. Jalani aja dulu. Aku senang kok, walaupun tidak langsung
rasa suka aku yang telah lama aku pendam untuknya perlahan terobati dengan
dekat dengannya. Meskipun… ya gitulah. Ngerti ajalah ya.
Paginya. Aku berangkat ke
sekolah bersama Ian. Pukul 6.30 adalah waktu on time kami berangkat. Entah kenapa pagi ini aku tidak bersemangat
untuk pergi sekolah lebih awal, tapi tetap saja aku bangun pagi dan besiap-siap
ke sekolah.
Di sekolah, aku
dikejutkan oleh temanku Dian yang bertanya kemarin aku pulang dengna siapa
padahal dia sudah menunggu aku di gerbang sekolah. Aku hanya bisa mengeluarkan
senyum terpaksa dan minta maaf padanya. Alhasil dia pulang sejam setelah aku
tidak muncul-muncul.
Dia bilang juga sudah bm.
Aku tidak merasa begitu sih, memang kemarin setelah pulang sekolah aku langsung
baring di kamar dengan seragam yang masih lengkap. Sedangkan hp aku tidak
memeriksanya. Sewaktu dia bilang dia bm aku aku langsung cek. Dengan muka tanpa
berdosa aku tunjukkan bm dia baru masuk. Dia balas senyum takjub sekaligus
bingung.
Kembali ke sekarang. Siang
itu dengan dandanan yang casual baju
kaos lengan pajang cream dan jeans
pensil hitam, sederhana tapi rapi dengan tas sandang mini LV donker dan sepatu
wedges cream yang senada dengan
bajuku warna favoritku, tak lupa rambut hitam panjang ikal sepinggang yang
bagian samping sengaja aku jepit lidi, aku keluar kamar menuju luar rumah. Cukup
sederhana menurutku ditambah no make up
hanya bedak tipis dan polesan lipgloss
menambah imutnya aku, haha ngarep ya.
Sebelum keluar rumah, aku
pamit dulu sama mamak ku. Awalnya dia banyak nanya, maklumlah ibu-ibu. Terlalu
khawatir dengan anak perempuan satu-satunya dari 3 orang anak yang dilahirkan
di keluarga ini. 2 orang saudara laki-lakiku sedang melanjutkan study di Malang
dan Yogyakarta. Kakak laki-laki pertama S2 jurusan Pendidikan Bahasa Inggris di
Malang sembari mengajar di salah satu universitas di situ.
Dan yang terakhir, dia S1
di Yogyakarta bagian Manajemen Perhotelan dan Pariwisata. Jadi wajar saja
mamakku begitu. Mamakku selalu mewanti-wanti anaknya dengan nasehatnya yang
benar sih. Dan aku suka beliau begitu. Bapak juga begitu dengan anak-anaknya.
Kami sekeluarga kompak. Bersyukur dilahirkan di keluarga itu. Aku mencoba
menjelaskan aku mau pergi kemana eh, si mamak udah tau duluan. Ya mau bagaimana
lagi. Kan gak repot aku ngejelasinnya. Langsung deh aku pamit, cium tangan pipi
mamak aku keluar menuju pintu depan.
Sejenak aku terperangah
melihat tampilan Ian yang hanya pakai celana jeans, dengan kemeja lengan pendek
berbalut dengan jaket dan sepatu kets, walau sederhana namun dia tampan pakai
apa aja. Dasar memang dari sononya tampan.
Cepat-cepat aku sadar
dari keterkejutanku. Tidak hari ini saja dia membuat aku terperangah dengan
penampilannya. Di sekolah saja cewek-cewek ngantri untuk melihatnya keluar
kelas atau sekedar berjalan di lorong kelas dengan tampilannya yang rapih dan
bersih.
Tancap gas kami langsung
pergi keluar. Kali ini Ian tidak memakai motor melainkan mobil honda jass merah
punya kakaknya.
Aku tidak tahu tujuan
kami kemana. Kami lumayan jauh meninggalkan rumah. Setelah itu kami sampai
disebuah gedung seni, sepertinya ada acara yang sedang berlangsung. Aku melirik
ke arahnya guna memecahkan keheningan selama di perjalanan tadi kebetulan juga
menghilangkan rasa penasaran aku ini.
“Kita ngapain kesini?,
mau ketemu dengan siapa Ian?” tanya aku.
“Nanti kamu akan tahu
juga, jadi ikut aja ya” balas Ian.
Kami sudah berada di parkiran mobil. Ian mematikan mesin
moilnya sedangkan aku membuka pintu mobil, gak berharap dibukain sih. Emangnya
Ian sopir. Haha. Tadinya berharap dia bakal bukain pintu mobil, trus
menggandeng tanganku. Hah, no way busway.
Aku masuk ke gedung itu
dan duduk disebelah Ian. Penontonnya cukup ramai, aku tebak kebanyakan
penontonnya adalah keluarga, dan beberapa muda mudi. Kami menyaksikan lomba
balet remaja se-provinsi. Aku baru tau ada lomba balet remaja di kota ini. Aku
bertanya-tanya dalam hati kapan ya Ian suka seni terutama tari balet.
Aku tidak mau berpikir
banyak lagi. Aku juga suka dengan semua jenis seni. Aku menikmatinya bahkan
antusias. Jarang-jarang kan aku menonton secara live pertunjukkan tari balet. Janjiku dalam hati pulang dari sini
aku harus mengucapkan terima kasih pada Ian.
Yang aku heran sedari
tadi Ian tidak lepas pandangannya memandangi sosok wanita yang menjadi
kontestan terakhir, dia begitu cantik dengan baju tarinya, melangkah dan
memainkan gesture tubuhnya sesuai irama, dengan tubuhnya yang ramping dan juga
tinggi serta wajah yang lumayan cantik dan dapat membuat para cowok jatuh cinta
langsung pada pandangan pertama. Pasti jauh beda sama aku. Tapi wajah bisa saja
kan tidak bertahan. Dan bisa saja dia oplas untuk menjaga image nya kan. Huss,
udah negative thingking aja akunya.
Tapi aku akui dia memang cantik.
♥♥♥
Riuh tepukan dari
penonton mengakhiri performance cewek itu. Membungkukkan badan dengan simpul
senyum manisnya kepada semua penonton. Seketika itu juga tatapan mata kami
bertemu. Aku dengan perasaan de javu bahwa dia tahu mataku tak lepas dari
penampilannya tadi. Aku balas tersenyum. Tiba-tiba dan tanpa aba-aba Ian menarik
tanganku dan membawaku keluar gedung dengan. Loh kenapa?.
Setelah kami keluar
gedung, ada suara seorang cewek memanggil Ian, arahnya dari belakang kami. Ian seketika
menghentikan langkahnya dan berbalik dan sontak melepaskan pegangan tangannya.
Ternyata aku salah besar,
bukan mata kami yang bertemu namun mata cewek itu dan Ian yang bertemu seakan
tersirat kerinduan yang sudah lama terpendam, maka dari itu Ian langsung
mengajakku untuk keluar gedung. Wahh, ada apakah ini? Semakin penasaran. Dan
perlahan kecurigaanku terjawab.
“Ian, akhirnya kamu
datang juga ya, apa kabar?” seru wanita itu berjalan menghampiri kami.
“Aku baik, penampilanmu
bagus seperti biasa” jawab Ian terbata.
Aku diacuhkan.
“Ini siapa Ian, pacar
kamu ya, wah selamat kalau gitu” seru wanita itu lagi.
“Ia kenalin pacar aku”
jawab Ian sambil memegang tangan aku.
Dengan tanpa persiapan
dan wajah kaget aku melihat Ian berusaha mencari jawaban dari keterkejutanku.
Tapi telat mereka sama-sama melihatku dan langsung memperkenalkan diri.
“Hi, aku Ayi, te…(melirik
kearah Ian, kembali lagi menatap cewek yang ada di depan kami) pacarnya Ian,
salam kenal. Penampilan kamu keren deh selamat ya” aku berkata sambil
mengacungkan dua jempolku pada cewek itu. Aku agak heran.
“Hai aku Shinta.
Terimakasih pujiannya” jawab Shinta.
Lalu dari belakang ada
yang memanggil Shinta seorang cowok. Aku rasa itu pacarnya. Dan benar dugaanku.
Shinta memperkenalkan cowoknya kepada kami. Selama berkenalan hanya
kecanggungan yang aku tangkap.
Setelah selesai kami
pulang. Ian berjalan dengan kaki panjangnya
sehingga aku harus melangkah cepat menyamai langkahnya menuju parkiran
gedung. Karena dia begitu cepat berjalan aku hampir teriak kepadanya,
“Ian, tunggu kita harus
bicara” pintaku. Ia menghentikan langkahnya dan berbalik menghadapku dan
berkata pelan seperti gumaman,
“Maaf soal yang tadi aku
tidak bermaksud apa-apa” balasnya. Aku mendekat dan berusaha meminta
penjelasan.
“Ternyata kamu ngajak aku
kesini cuman buat dia cemburu, lalu apa maksud kamu bilang ke dia kalau aku ini
pacarmu, tega kamu ya Ian, aku gak nyangka kamu yang pintar bisa kayak gini”
aku tidak sadar dengan yang telah aku ucapkan tadi.
Pandanganku seakan
berkabut. Genangan air yang penuh hendak tumpah ruah membanjiri alasnya, ya
inilah tiba-tiba saja air mata jatuh tanpa diminta. Seperti ditembak di siang
bolong. Aku sudah terlalu berharap sama dia tapi ternyata dia bisa berbuat
kayak gini. Nyesal aku mau ikut bersamanya. Dengan cepat aku menunduk dan
mengusapnya dengan punggung tanganku. Tidak ingin dia melihat kerapauhanku ini.
“Bukan Ayi, aku cuma
ingin ngucapin selamat tinggal sama dia, itu doang. Lalu masalah kita lupain
aja ya, udah sore ayok pulang” balas Ian frustasi sambil mengacak rambutnya.
“Aku gak mau pulang. Kamu
aja duluan. Aku masih mau disini”. Aku bergumam dalam hati sambil melirik ke
segala arah, “Aku kan gak tahu ini dimana, mau pulang pake apa?,”
Ternyata Ian gak tega
membiarkan aku pulang sendirian. Dia menarik tanganku masuk ke mobilnya. Dengan
terpaksa aku naik.
Hanya keheningan yang
terjadi di dalam mobil, lalu aku memulai berbicara,
“Maaf ya, tidak seharusnya
sikap aku kayak tadi ke kamu aku kan bukan siapa-siapa kamu jadi lupain aja ya
yang tadi tu” ujar aku dengan nada putus asa.
“Aku senang lagi kamu
kayak gitu. Aku tahu kamu suka sama aku kan? Aku juga suka sama kamu!” balas
Ian sambil melirik ke arahku dan fokus kembali menyetir. Dengan gugup aku balas
berkata,
“I…iya aku suka sama
kamu,” omonganku diputus cepat sebelum aku melanjutkannya.
“Sekarang kamu jadi pacar
aku titik”. Dia mengerem tiba-tiba, sontak mengagetkanku dari keterkejutanku.
“Oke kita sudah sampai,
silakan turun dan sampai ketemu lagi Ayi” dengan mulut yang menganga dan
terlihat pucat aku turun dari mobilnya. Dia langsung tancap gas ke rumahnya.
Aku masih tidak menyangka Ian berkata seperti itu.
♥♥♥
“Hai Ayi” sapa Dian
dengan raut mukanya yang selalu riang dan langung duduk disebelahku.
Dengan malas tanpa
melihatnya aku menjawab, “Hai jugak Dian”
Dian menatapku dengan
heran seraya berkata, “Loh ada apa Ayi, kok gak semangat gitu? Cerita dong
tentang kemaren, hehehe” goda Dian.
Aku hanya tersenyum
ngengir padanya. Aku mulai bercerita dari awal hingga kejadian yang mengejutkan
aku itu.
“Waww” ucap Dian setelah
mendengar semuanya.
“Maaf maksudku ya itu
kata pertama yang bisa aku ucapkan dan aku benar-benar terkejut”
“Okay, trus aku harus
gimana dong?” balas aku.
“Aku masih gak nyangka
Ian Wijaya yang super duper terkenal di sekolahan bahkan di luar nembak kamu.
Hmm menurut aku sih kamu jalanin aja dulu, aku dukung kok sebagai sahabat. Aku
rela kalian jadian daripada dia jadian sama cewek cabe-cabean, haha”
Aku berharap sekarang aku
ditelan oleh bumi dan jangan biarkan aku muncul kembali. Teringat kejadian
kemaren merasa seakan bumi berputar-putar dan tanah bergetar dengan tangan
gemetar aku meraih gagang pintu rumah dan langsung berlari ke kamarku,
menguncinya. Dan menjatuhkan diriku seakan dunia runtuh.
Masih diliputi
keterkejutanku dengan kejadian tadi sore. Aku tidak mau memikirkannya karena
akan membuat hatiku lebih sesak. Aku memutuskan mandi, kemudian turun kebawah
makan malam. Dan kembali ke kamar untuk mempersiapkan peralatan sekolahku.
“Eh tapi Ay, bagusnya
kamu tu konfirmasi lagi sama Ian takutnya dia malah nyakitin kamu trus jadiin
kamu pelarian doing. aku kan gak suka lihat kamu sedih” lanjut Dian.
“Iya deh, sahabat ku
sayangku. Makasia nasehatnya” ucapku sambil memeluk Dian, dan dia balas
memelukku.
“Udah yuk, kita ke
lapangan upacara lihat anak PMR jadi pengibar” timpal Dian lagi. Aku melangkah
keluar kelas dengan Dian. Tiba-tiba aku diam mematung diantara kusen pintu
sambil menengadah ke atas, jantungku seakan berhenti berdetak dan aku yakin
wajahku seperti mayat hidup sesakan. Aku melihat Ian berjalan kearahku dengan
dua sudut bibirnya melengkung menandakan dia tersenyum kepadaku.
Aku tersadar oleh
kebekuanku ketika tangan Dian menarikku. Ternyata Ian sudah berada di lapangan
berbaris sesuai dengan jurusannya. Aku melirik kearah dia, tapi dia sedang
focus berbaris paling depan sebagai ketua kelas. Upacara Senin yang membosankan
tapi aku menikmatinya. Waktunya kami kembali ke kelas.
Dengan tatapan kosong aku
berjalan ke kelas ku yang tidak jauh dari lapangan upacara. Belum sampai di
kelas aku dikejutkan oleh senggolan bahu cowok yang tidak terlalu keras namun
dapat membuat aku hamper terjatuh kedepan, untungnya aku reflex dan dapat menahan
badanku dengan kakiku.
Dengan kesal aku menoleh
kearah cowok yang menabrakku tadi. Wajahku bagai udang rebus yang baru diangkat
dari panci melihat siapa yang sudah menyenggolku. Dengan muka polosnya dia
tersenyum dan mengangkat tangannya tanda menyerah “Maaf gak sengaja” kata Chiko
dengan entengnya sambil berlari ke kelas. Aku hanya bisa ngutuk-ngutuk didalam
hatiku. Dan lanjut ke kelas.
Hariku sudah heboh dengan
kejadian kemaren ditambah dengan ulah si cowk usil ini yang senang menggangguku
dikelas kalau guru tidak ada. Sebagai wanita yang lemah lembut dan paling manis
aku tidak pernah membalas usilan teman-teman lainnya. Tapi karena ini sudah
kelewatan kali, iblis wanita yang sedang tertidur jauh di dalam diriku bangun
dan ya mengamuklah aku.
Untungnya aku tidak
melakukan kekerasan secara fisik. Tapi kata-kata pedas menusuk hidung itu
keluar begitu saja. Dengan manis aku mengumpatnya. Sebelum kata-kata pamungkas
aku keluar, terlebih dahulu si Dian menarikku dan mengajakku ke kantin. Pas
banget waktu itu sedang jam istirahat.
Aku tidak tahu lagi
suasana kelas bagaimana. Puas mengumpati Chiko tapi aku nyesal sudah berkata
seperti itu padanya. Aku bilang kalau dia cowok banci yang sukanya ngusilin
cewek dan kurang kerjaan. Hhuaaa emang
ya penyesalan tu datangnya belakangan. Nanti deh aku coba ngomong sama
dia lagi dan ucapin maaf sama dia. Lohh dia yang aku yang minta maaf. Haha nope lah. Kadang kalau mau jadi wanita
dewasa harus bisa memaafkan duluan.
Di kantin aku hanya duduk
dikantin sambil menyesap the es ku dengan tidak semangat sedangkan Dian dengan
lahap makan mie rebus. Dia memang seperti itu, ada atau tidak ada masalah tetap tidak mengurangi nafsu
makannya. Di sela kami menikmati keheningan, tiba-tiba ada yang duduk di
sampingku. Oh ternyata si Ian.
“Hai Ayi tadi pagi kok
bareng? Aku nungguin kamu. Kata tante kamu udah pergi duuluan.” kata Ian
padaku. Belum sempat aku menjawabnya. Dian memuncratkan teh esnya hamper
mengenaiku. Aku rasa tidak hanya Dian yang terkejut teman-teman yang ada di kantin
menaruh heran pada kami. Aku melirik Ian dengan muka cemas dan melihat ekspresi
Dian terkejut seolah minta penjelasan dari kata-kata Ian tadi.
“Iya aku pergi naik
angkot tadi” balasku dengan nada lemah. Hendak mengatakan sesuatu, Ian
diinterupsi oleh panggilan temannya. Beranjak dari tempat duduk ia langsung
berjalan kearah temannya memanggil tanpa menoleh ke belakang. Aku yakin dia
malu menemuiku. Huftt.
♥♥♥
Masih dengan muka
terkejutnya, Dian hendak mengatakan sesuatu tapi telat Karena bel istirahat
sudah berbunyi. Untuk sekarng aku terselamtkan, terima kasih bel ucapku dalam
hati. Tapi aku tidak bisa tidak menjelaskan kepada sahabatku ini. Kami langsung
menuju kelas.
Aku paling suka hari
Senin karena hari berlalu begitu cepat, biasanya seperti itu. Tapi entah kenapa
hari ini terasa begitu lama berlalu. Pulang sekolah seperti biasa aku pulang
lebih cepat dan menuju ke tempat biasa ku menunggu Ian. Kami pulang dengan
motornya. Keheningan yang meliputi sepanjang perjalan kami. Lau aku sampai di
rumah. Aku mengucapkan terima kasih dan Ian menuju ke rumahnya.
Malamnya, aku chat Dian
dan menjelaskan kepadanya. Aku tidak bilang padanya kalau aku pergi dan pulang
sekolah dengan Ian. Itu karena mak aku yang meminta Ian dan dia pun tidak
keberatan. Yah, Dian terkejut tapi mengerti. Memang sahabat yang baik.
Kembali ke rutinitas
malamku, aku mengecek keperluan sekolah untuk besok agar paginya tidak
tergesa-gesa. Apalagi aku berangkat berma Ian, sambil mempersiapkan mental dan
hati untuk bertemu lagi dengannya. Aku naik ke tempat tidur dan meringkuk ke
dalam selimut seperti bayi dalam kandungan. Dan mataku berat lalu terlelap.
♥♥♥
Pagi hari disambut dengan
cuaca cerah. Aku bangun Shubuh seperti biasa melakukan rutinitas pagi hari.
Setelah mandi, sholat, dan sarapan tidak lupa meminum obatku. Pukul 6.30 Ian
sudah stand by di depan rumahku. Aku
pamit pada makku. 30 menit perjalanan dari rumah ke sekolah. Lebih cepat
daripada aku naik angkot. Masih keheningan terasa. Seolah tidak terjadi apa-apa
pada minggu kemaren. Aku heran deh. Tapi aku tidak mau memikirkanya.
Seharian kami berdada di
bengkel. Rencana awal aku akan menemui Chiko dan meminta maaf padanya.
Kebetulan dia sedang sendirian di sudut bengkel sedang mengerjakan sesuatu. Aku
berdiri di depannya dan tanpa basa-basi aku langsung utarakan apa yang
seharusnya aku katakan, sebelum aku bicara dia menatapku dan langsung bicara
duluan,
“Maaf soal kemaren Ayi,
aku tidak bermaksud buat kamu jengkel” ucapnya.
Aku hanya menghembuskan
nafas panjang dan berkata, “Iya Chiko aku juga minta maaf” lalu aku mengulurkan
tangan kananku menunggu balasan jabat tangannya. Dengan ragu dia membalas jabat
tanganku. Aku tersenyum kepadanya dan dia balas senyumku. Aku kembali ke tempat
dudukku. Teman-teman lain yang sebelumnya melihat adegan yang terjadi diantara
kami datang dan langsung bersorak sorai dan menggoda Chiko. Aku hanya bisa
tertawa bingung.
Setelah kejadian minta
maaf tersebut, Chiko jadi sering bicara padaku. Sekedar menyapa atau bertanya
tentang tugas. Dan teman-teman mulai membully
aku, bully-annya bukan yang jahat atau melakukan bentuk kekerasan ya, tapi
mereka bilang cie cie gitu. Waktu jam istirahat Chiko datang ke tempat dudukku,
langsung teman-teman bilang ‘ciyehhh Chiko.. cuit cuit’ aku melihat mukanya
memerah. Aku tersenyum bingung.
Mengenai hubunganku
dengan Ian. Semenjak kejadian di kantin waktu itu kami tidak pernah membahasnya
lagi. Yah, karena sedang sibuk dengan persiapan Ujian Nasional mendatang. Aku
tidak sempat memikirkan kisah asmaraku. Mungkin dia begitu juga. Pulang
sekolahpun begitu, kami hanya ngobrol seputar pelajaran, tidak sempat membahs
tentang kejadian ‘aku jadi pacarnya Ian’.
Si Chiko jadi sering main
sama kami. Ke kantin bareng. Praktek sering minta ajarin sama aku, padahal dia
prakteknya bagus. Modus mungkin yaa. Haha. Oia pernah aku lagi jalan berdua dengan
Chiko menuju bengkel dan itu melewati kelasnya Ian. Aku mikirnya gak sampai ke
sana bakalan lewat ke kelas Ian.
Sewaktu aku lewat aku
lagi balas ketawa si Chiko karena dia orangnya kocak. Lalu tiba-tiba Ian keluar
kelas dengan teman-temannya memakai baju olahraga. Dia melihat kami dengan
tatapan dingin. Aku mau menyapa, tidak jadi. Ya langsung saja kami berlalu dari
hadapan dia.
Sejak dekat dengan Chiko
hari-hariku terasa sebentar untuk dilewati. Dia anaknya super duper kocak,
pandai bergaul dan cepat membuat bahan bicara yang membuat orang tertawa
mendengarnya. Walaupun dia orangnya terbuka, tapi dari tatapannya itu
mengandung tatapn mata sedih.
Aku tak tahu ada apa
sebenarnya. Rupanya ceria tidak selalu menggambarkan hati yang ceria pula.
Mungkin ada cerita di balik itu. Aku lantas tidak langsung mencari dan
penasaran akan hal itu. Aku fikir biarlah ini berjalan sesuai jalan-Nya.
To be continued
Komentar
Posting Komentar
Life is short. There is no time to leave important words unsaid [Japanese Proverb]