Episode 1: S.R.M.H




TESST TESST TESSTT
Titik-titik air mulai jatuh ke bumi membasahi tanah kelahiranku. Titik titik air berubah menjadi bulir-bulir air yang deras menghantam tanah seakan langit tak mampu lagi menampung beban muatannya. Hujan deras mengguyur kota Pekanbaru, tepatnya Rumbai, disekitar salah satu SMK  yang terkenal di kota tersebut, SMK Andalan namanya.
Siang itu, langit begitu cerah, seperti tak ada batas, matahari dengan sinarnya yang terik menerangi hari itu, lantas, tak ada kabar berita, tiba-tiba saja langit begitu mendungnya, satu demi satu air jatuh membasahi bumi.
Waktu itu, kami hendak pulang sekolah. Aku melihat  kearah luar, aku bingung dengan keadaan ini. Namun, ini sudah ada yang mengatur. Sedangkan teman-teman ku lainnya sibuk bermain hujan, karena besok libur. Sementara aku diam saja di kelas, karena aku tahu orang yang tidak sehat seperti aku dilarang keras hujan-hujanan, untuk itu aku selalu menyediakan mantel dan jaket.
Namun sayang, aku lupa membawa itu semua, karena aku berpendapat hari ini tidak akan hujan. Satu jam aku menunggu hujan reda, namun tak juga henti. Dua jam kemudian. Aku mulai bosan dengan ini, lantas aku melanjutkan pulang kerumah dengan sahabatku Dian, kami pulang menggunakan angkot.
Untung saja waktu itu aku dipinjami jaket oleh Bayu temanku. Waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Angkot belum juga tiba, sebelumnya dan sudah dijemput oleh kakaknya, tidak jadi pulang denganku.
Aku menunggu di pos satpam, untungnya masih banyak orang tadinya, namun satu satu pergi, tinggalah aku sendiri. Aku tidak sanggup terlalu lama dalam udara yang dingin, aku terus memegang kedua tanganku sampil mengusap-usapnya hingga terasa hangat.
Tiba-tiba orang yang tak kuduga datang, menawarkan tumpangan kepadaku. Dia adalah musuh bebuyutan dari SMP, sampai SMK, namanya Ian Wijaya. Kami bersaing terus dalam akademik dan non akademik, dalam organisasi aku memilih Pramuka, sedangkan dia Passus.
Aku sangat tidak suka dengan sikapnya yang suka meremehkan orang. Aku tahu dia punya segalanya, keluarga mampu, wajah tampan, otak cerdas, tapi sayang sombong. Lanjut lagi ya ceritanya. Ketika dia menawarkan itu, aku hanya diam tak merespon apa yang dikatakannya, lantas dia turun dari motor ninjanya, masuk ke pos.
Dan mengulang lagi perkataanya, aku belum selesai berkata apa-apa, dia langsung menarik tangan ku dan menyuruhku naik ke motornya, aku hanya tersenyum sinis dan mendongkol dalam hati.
Aku melihat sekeliling, orang-orang melihatku dengan sinis, ya sudah aku langsung naik ke motornya, dia tancap gas dan melaju dengan kencang, karena aku tidak ada persiapan, lantas aku tersentak kepunggungnya, dan memeluknya, ini karena terpaksa. Senang melihat orang menderita.
Mungkin dia senyum-senyum melihatku. Butuh satu jam untuk kerumah ku yaitu di Panam, kebetulan saja rumah Ian dan rumah ku sejalan, sealamat, sekomplek, tetangga, bersebelahan lagi. Oh Tuhan, mengapa engkau ciptakan aku dengannya??. Aku menggerutu sendiri. Waktu satu jam ditempuh Ian dengan 30 menit. Mungkin jalanan sepi karena hujan, jadi tidak banyak kendaraan yang lalu lalang.
Rumahku yang pertama dilalui, lantas dia langsung berhenti dan aku turun, belum sempat aku ucapkan terima kasih, eh dia langsung tancap gas kerumah dia. Aku juga langsung kerumahku.
“Assalamu’alaikum, Mak. Siti udah pulang, humb penat Mak” sapa aku kepada mamakku yang ada di ruang tamu.
“Wa’alaikummussalam Nakku, Mamak tau kamu pulang lama karena hujan ya, oia tadi pulang dengan Ian kan,?” balas mamakku.
“Mamak kok tau?” sambung aku lagi.
“Tadi Mamak yang telfon Ian, bundanya Ian tadi kesini, kebetulan deh, Mamak minta tolong kalian pulang sama, kenapa? Ian jahat sama kamu?” ucap mak aku dengan nada setengah menggoda.
Aku menyeringai sopan, “Oh, gak dow Mak, biasa saja, tapi aku belum ngucapin terima kasih, dia langsung pulang”.
Lantas aku pergi ke kamarku, mandi, makan malam, dan ol sebentar, hehe.
♥♥♥
Nama lengkapnya Ian Wijaya, ia lahir di Pekanbaru, 02 Desember 1995, dia Indo Inggris Java, nama belakangnya berasal dari kakek buyutnya. Dia seumuran denganku, malah aku lebih tua tiga bulan. Dari fisik, dia bisa dibilang tampan, tinggi, kulit sawo mateng dan manis, mirip kayak pesepak bola Argentina, Neymar. Dan kebetulan juga aku nge-fans banget sama Neymar. Aku baru tahu loh kalau dia mirip pesepak bola itu. Dari intelektual dia cukup pintar terutama dalam bahasa Inggris dan matematika, tentunya agama juga bagus. Dari aku SMP dan SMK kami bersaing terus, kadang aku juara satu, kadang dia. Tapi di SMK aku beda jurusan dengannya, dia memilih jurusan Teknik Kendaraan Ringan, sementara aku Teknik Pendingin Dan Tata Udara, hehe masa cewek jurusannya itu, tapi aku maunya itu sih.
Lanjut. Selama di SMK, dia selalu juara umum, sementara aku hanya dapat juara umum dua, oia sekarang kami ditingkat III SMK atau kelas XII, bulan April nanti kami akan menghadapi UN. Belajar giat agar lulus UN dengan nilai yang memuaskan adalah moto kami siswa tingkat akhir. Dan dia memilih organisasi Passus, dia cukup bagus PBB-nya, tapi di SMK Passus dan Pramuka gak pernah akur di belakang, pasti saling menjelekkan. Pramuka biasa-biasa saja sama Passus, tapi Passus anggap remeh sama Pramuka, tapi ya udah itu namanya kehidupan. Sekolah cukup adil dengan membuat organisasi ini, tidak membeda-bedakan.
Aku tahu, banyak cewek yang suka sama dia, tapi aku belum pernah dengar kalau dia punya cewek. Malahan yang paling sering aku dengar, cewek-cewek menggosip tentang dia, bagaimana banyak cewek yang suka padanya tapi ditolak mentah-mentah, alasannya simple banget yaitu, cewek itu harus lebih pintar dari dia. Aduhhh susah deh. Kalau dibahas tentang dia dan aku, kami bagaikan 3600 bedanya, tapi dia gak pernah acuhkan kalau aku ngomong, dia mendengarkan dengan sangat baik, namun setelah itu dia bersikap dingin. Jawabannya kalau “tidak”, atau “ ia” dan “terus?”. Dan kalau tidak penting dia tidak akan ngomong dan membahasnya. Dia jarang banget senyum dengan cewek-cewek, tapi dia orangya ramah dengan guru-guru, penjaga sekolah, dermawan juga. Tapi yahh sayangnya aja dia itu dingin sama cewek, apalagi sama aku, huhh sebel deh. Oke habis tentang dia kini tentang aku, hehehe
Nama aku Siti Azzahra Kiehl. Aku biasa dipanggil Ayi oleh teman-temanku, tapi kalau di rumah aku dipanggil Siti, biar jelas Indonesianya, hehe. Agak aneh ya nama aku, aku Lahir di Jerman besar di Indonesia tepatnya di Riau, Pekanbaru sejak tahun 2000, aku umur 5 tahun pindah kesini. Jadi tidak heran, muka Indo tapi fasih bahasa Indonesia. Kata teman-teman aku, aku tu seperti pribahasa, diam-diam tapi menghanyutkan, terutama dalam hal pelajaran, hehe. Eittt pasti ada yang ngira aku saudaraan sama artis ibukota yang terkenal dengan ‘hujan, becek, gada ojek’ ya kan.. hehe kebetulan aku bukan saudaranya. Nama belakangnya doang yang sama tapi gada hubungan saudara kok.
♥♥♥
Ujian mid semester 5 tinggal seminggu lagi gak nyangka sebentar lagi kami akan menghadaapi UN di bulan April nanti, aku dan teman-teman ku sibuk belajar bersama. Mereka paling senang belajar di rumahku, apalagi cewek-cewek dari jurusan lain, karena mereka tahu aku tetangga dari Ian. Tapi aku pandai juga mencari alasan, aku hanya memperbolehkan 4 cewek yang ada di kelasku untuk belajar sama, soalnya kami hanya 5 orang ceweknya. Maklum, ini jurusan laki-laki. Persiapan untuk ujian mid adalah belajar, belajar, dan belajar, agar ujian semester nanti udah ada simpanan. Tapi aku tidak belajar sendiri, bukannya kayak Ian tuh, yang belajarnya sendirian, kayak udah pinter aja. Emang pinter sih dianya.
            Tibalah ujian mid. Aku serius dalam ujian kali ini, aku tidak mau nilai aku turun, hari pertama ujian yaitu Agama dan B. Indonesia. Hari pertama berjalan lancar. Kami pulang agak cepat dari hari biasanya. Kesempatan ini aku gunain buat pergi kerumah teman aku Dian dan Bayu. Terlebih dahulu pastinya sudah minta ijin sama orang rumah. Setelah ke rumah Dian, kami lantas pergi ke Mall SKA, biasa cuci mata. Lagi asik-asik keliling di mall, tiba-tiba dari arah berlawanan aku melihat Ian berjalan sendirian, lantas kami langsung bersembunyi. Kenapa ya Ian biasa ke mall, ngapain lagi. Kami lupain masalah dia. Karena kami lapar, kami mampir ke BFC, nongkrong dan makan-makan. Setelah satu jam, datang Ian dari belakang dan menghampiri aku sambil bilang,
“Cukup senang-senangnya, ayo kita pulang” ucap Ian dingin dan memaksa. Aku dan teman-teman aku heran kenapa dia bisa bilang kayak gitu. Lantas teman-temanku bilang,
“Udah, pulang gih, pangeran ninjanya udah jemput tuhh” ujar Dian.
Aku memutar mata dan menyeringai, “Apaan sih, enggak lah, kamu pulang aja duluan, aku mau pulang nanti sama teman-teman aku” tampangku sedikit malu.
“Oke, jangan salahin aku kalau tante ngomel sama aku” balas Ian.
Aku terdiam sambil mikir, dalam hati “Oia, Ian kan pengadu, kalau dia ngadu bisa kena marah-marah habis-habisan aku di rumah” dia tau aja kelemahanku.
“Yaudah deh, aku pulang sama kamu, maaf ya teman-teman aku duluan, nanti kita smsan, oke” ucap aku kepada Ian, Bayu dan Dian.
Teman-teman pada heran, semua tertawa dan serentak berkata, “Hati-hati yaa jaga Ayi baik-baik”. Aku hanya bisa tertunduk menahan malu dilihat orang banyak.
Sambil jalan aku ngomel-ngomel sama Ian, “Kenapa sih kebahagiaan aku selalu kamu renggut, gak bisa ya kamu urusin urusan kamu sendiri?” tapi dengan santai Ian berlalu, “Hellooo dari tadi aku ngomong kamu gak dengerin ya, kamu budek apa?” tambah aku. Langkahnya terhenti dan berbalik menatap tajam ke sambil berkata, “Tolong diam, bisa kan!”.
Seketika aku terdiam membeku dengan mulut sedikit menganga. Ketika hendak mengucapkan kata-kata serangan dia sudah balik berjalan meninggalkanku yang masih setia dengan kebekuanku.
Sambil berlari kecil aku mengejarnya. Kami sudah berjalan ke parkiran khusus sepeda motor yang dekat dengan pintu masuk.
“Kamu tunggu di sini, aku mau ambil motor!” ucap dingin Ian.
“Eya!” balas aku kesal.
Jam tiga seperempat kami meninggalkan mall itu, karena Ian yang bawa motor, aku nurut aja dia bawa kemana-mana, aku tahu dia sengaja bawa aku lewat jalan jauh, mungkin sengaja lagian aku gak pakai helm, tau lah polisi di sini, main tilang aja. Kami keliling Pekanbaru. Asik juga lah jalan-jalan gratis, hoho. Lalu kami berhenti di salah satu musholla dekat jalan raya, aku yakin dia mau shalat Ashar. Sudah tampan rajin sholat lagi. Uhh sesuatu deh.
“Kamu sholat gak? Kalau gak kamu tunggu di sini aja” ujar Ian
“Iya, aku tunggu di sini aja, kebetulan aku lagi gak shalat”. Dia pergi meninggalkanku, dan masuk ke mushalla itu.
Aku duduk di tempat khusus menunggu. Tepatnya seperti pondok, terdapat beberapa kursi untuk memuat sekitar 6 orang. Atap dengan daun sawit atau rumbia kalau tidak salah menambah sejuk tempatnya. Ditambah dengan kebersihannya yang dijaga, disediakan tempat sampah. Tidak heran walaupun disebut mushalla, Mushalla ini cukup besar dan nyaman disinggahi pengendara yang hendak mampir.
Setelah selesai shalat, kami tidak memiliki tujuan lain selain pulang ke rumah. Dia langsung mengantar aku pulang ke rumah. Dia juga langsung pulang. Tak lupa megucapkan terima kasih. Walaupun masih ada rasa kesal di hati.
Ujian mid sudah berlalu, hari ini adalah pengumumannya, wah gak disangka-sangka ternyata aku dapat juara satu di kelas, tapi yang juara umumnya udah ketebak, pasti dia Ian Wijaya.
♥♥♥
November adalah bulan yang penuh haru, setiap hari pasti awannya nangis terus, tidak mengenal pagi, siang atau malam. Mungkin awannya sedang sakit mata jadi matanya berair terus, huhh apaan sih. Atau awannya sedang galau seperti aku yang gegana, gelisah galau eitt gak merana copp!.
Suatu hari, seperti biasa aku menduga hari ini tidak akan hujan karena dengan cerahnya pagi ini. Aku dengan senang hati berangkat ke sekolah. Memang iya, dugaanku salah besar, tiba-tiba awan menangis seakan tidak dapat menahan kesedihannya disaat kami sudah pulang sekolah. Seperti biasa aku menunggu di pos hingga hujan reda. Untungya hari ini hujannya cuman sebentar, lantas aku memutuskan untuk berjalan pulang di saat gerimis. Tak diduga-duga, awan kembali sedih dan menurunkan air matanya, aku berlari dengan sekencang yang aku bisa untuk menghindari airnya yang semakin deras jatuh ke bumi, berlari hingga ke halte bis, tapi  sayang seribu sayang seragamku basah kuyup dan aku kedinginan.
Di halte banyak orang sedang berteduh, tak ada tempat untuk duduk. Lantas mau tidak mau aku berdiri sedikit agak ke dalam untuk menghindari percikan air. Di sana banyak juga anak sekolah berteduh, terutama cewek-cwek yang suka sama Ian. Aku kedinginan. Satu jam sudah lewat, tapi hujan belum reda juga, aku duduk sambil menundukkan kepala, dan memeluk erat tas yang sudah aku pegang, mencoba untuk menghangatkan badan. Akhirnya hujan reda juga.
Aku sedang menunggu angkutan, tapi sayang tidak satupun angkutan lewat, aku pasrah. Orang-rang yang berteduh tadi sedikit demi sedikit sudah beranjak pergi. Lantas aku duduk di sudut kursi yang tersisa. Namun cewek-cewek yang naksir Ian belum juga beranjak dari kursi mereka. Sebelumnya aku sudah bilang ke orang rumah bahwa aku terjebak hujan di halte, kebetulan hp aku lowbat jadi tidak bisa meminta jemputan.
Tak berapa lama Ian datang dengan motornya, awalnya aku tidak menghiraukan siapa yang datang. Lantas Ian turun dan menghampiriku sambil memasangkan jaketnya ke bahuku, aku terkejut shock terapi gitu. Semula yang terasa dingin oleh hujan sekarang tampak panas, kalau dilihat wajhku seperti udang rebus. Aku melihat ke sekeliling, semua cewek menatapku dengan sinis dan tampang iri. Aku gak peduli lagi sama sekelilingku, yang penting aku pulang sekarang. Bukan dia yang ngomong duluan malah aku.
“Eh Ian kebetulan, ayok kita pulang aku kedinginan banget ni” ucapku mendahuluinya naik ke motornya.
Ian melaju dengan motor ninjanya, karena aku tidak kuat menahan dingin, lantas aku memeluk Ian,  tapi aku tau juga batasannya. Aku hanya dapat memeluk tas punggungnya yang sedikit basah. Aku mencairkan suasana dengan bicara, “Huh dingin ya hari ini, cuaca lagi gak mendukung” ucapku canggung sambil mengeratkan pelukanku. aku yakin Ia hanya tersenyum kecil gak jelas meski dilihat dari belakang.
Setelah sampai di rumah, aku mengucapkan terima kasih kepadanya, tanpa diduga dia bembalas ucapanku.
♥♥♥
Setelah kejadian itu kami jadi dekat. Bukan dekat dalam artian akan ada hubungan asmara, tapi baru akan. Saling tukar nomor handphone, tukar pin BB dan pergi dan pulang seoklah bareng. Gak sengaja sih awalnya. Itu karena Mamak aku yang minta nomor Ian dari ibunya Ian. Dan Mamak aku meminta Ian berangkat sama kesekolah. Gak gratis sih ada imbalannya, setiap bulan dibayar 200 ribu itung-itung buat nabung Ian untuk bekal lamar anak gadis orang, uppss hehe.
Aku diantar jemput sama Ian sampai mejelang UN. Dan mulailah kisah kami. Kayak didongeng aja ya.
Karena aku tidak mau ketahuan kalau aku sama Ian terus pergi dan pulangnya. Aku selalu datang duluan pertama dari teman-temanku. Aku sengaja turun 100 meter dari sekolah. Dan pulangnya selalu lebih awal. Aku pernah hampir ketahuan waktu itu tidak sengaja aku baru turun dari motor Ian. Eh, ada Dian dibelakangku sambil mengejutkanku. Untungnya sih dia tidak tahu.
Hari ini senang banget karena setiap sabtu Ian tidak pulang sama aku, karena dia ada les matematika. Jadinya aku bebas pulang sama siapa aja. Tadinya sih Ian mau minjamin motornya buat aku bawa pulang. Tapi ya aku kan tidak pandai bawa motor kopling. Hehe
Aku memutuskan pulang bersama Dian dan Bayu menaiki angkot. Seperti biasa setiap minggu kami mengadakan belajar kelompok. Minggu ini giliran dirumah Dian.
Sebulan persiapan ujian semester akhir di bulan Desember nanti. Jauh-jauh hari kami sudah mempersiapkan diri dengan belajar bareng. Kami gantian belajarnya. Kadang dirumah Bayu, trus minggu depannya di rumah Dian, dan selanjutnya di rumah aku. Tapi aku khawatir banget soalnya rumah Ian bersebelahan dengan rumahku jadinya bisa ketahuan dong nantinya. Tapi aku berfikir positif aja. Nah minggu depan adalah waktunya kami belajar dirumah aku.
♥♥♥
Waktu belajar dirumahku, aku undur karena aku harus mengikuti latihan gabungan dengan tiga organisasi disekolahku yaitu Pramuka, PMR, dan Passus. Latihan ini diadakan di salah satu objek wisata yang terkenal di pekanbaru.
Tibalah kami di tempat tersebut. Kami berkemah disana hanya semalam. Acara tersebut diadakan sabtu dan minggu. Dengan senang hati aku mengikuti acara ini.
Kami dibagi beberapa kelompok yang didalamnya terdiri dari campuran dari pmr, Pramuka dan passus. Kebetulan aku sekelompok sama Ian. Kebetulan juga ada kakak senior Passus yang aku taksir. Walaupun dia dua tahun diatas aku sih. Dari kelas satu aku sudah naksir sama dia. Sayang dia tidak tahu aku. Aku hanya memendam perasaan aku jauh didalam lubuk hati ini. jiahhh.
Kebetulan yang jadi ketua di grup kami adalah Ian, sedang aku baris paling belakang. Sengaja sih biar jauh dari dia. Dan yang penting itu adalah kakak yang aku sukai itu jadi guide kami, ouhh jadi semangat deh lintas alamnya.
Selama dua jam kami berjalan melewati hutan belantara akhirnya kami sampai juga di air terjun yang sangat indah. Kami pertama kali yang sampai disini jadi sementara nunggu kelompok lain kami asik foto-foto uhh senengnya. Dan aku dapat berfoto sama kakak itu. Bahagianya. Dan yang paling mengesalkan adalah ketua kami itu selama diperjalanan kami bertengkar tentang arah jalannya sampai-sampai kami hampir tersesat, untung saja ada kakak Wisnu. Kami melepas penat dengan makan-makan dan berenang disana. Semua orang termasuk wisatawan juga sangat menikmati suguhan yang diberikan tuhan kepada kami.

Ada sesuatu yang tidak direncanakan terjadi. Salah satu anggota dari kelompok lain kesurupan, cewek. Dan kesurupannya berantai. Untung saja kelompok kami tidak kena. Kesurupan ini dimulai ketika kami semua sudah berbenah dan hendak pulang, sebelum itu kami upacara penutupan di basecamp awal. Mungkin cewek ini lelah dan pikirannya sedang kosong, ya masuklah setannya. Kami ketakutan sekali, si Ian ikut membantu yang lainnya. Sedangkan yang tidak kena disuruh pulang terlebih dahulu. Daripada aku kenapa-kenapa lebih baik aku pulang.
Sesampainya disekolah. Banyak siswi yang kesurupan pembimbing kami sangat sedih dan ada yang sampai menangis. Korban dibawa ke mushola. Sedang aku tidak ingin ikut campur aku duduk bersama temanku mutia. Untungya kami tidak kena. Setelah didatangkan salah satu guru yang bisa mengobati kesurupannya, akhirnya semua korban bisa pulang. Aku lama sekali menunggu Ian yang ikut membantu. Dia memang bisa mengobati gitu. Sebelum kejadian Ian sudah memperingati kami tentang itu, malahan aku yang paling ditakuti Ian, dia selalu melindungi aku. Aku tahu itu karena aku merasakannya. Dan setelah kejadian itupun Ian bertanya kepadaku untuk tetap bersamanya. Aku nurut saja.
Akhirnya pukul setengah delapan malam peristiwa itu selesai. Kami pulang kerumah masing-masing. Tentu saja aku pulang dengan Ian. Teman yang lain menaruh curiga sama aku. Aku sih cuek saja.
“Kayaknya mereka itu pacaran deh” bisik salah satu anggota Passus.
“Ah, mana mungkin Ian suka sama Ayi” balas yang lainnya.
Cuaca pagi ini sangat cerah. Kami memperingati hari guru dengan upacara. Aku tidak tahu mengapa belum setengah upacara berlangsung aku tidak sadarkan diri. Aku mendapati diriku berada di dalam uks sekolah. Dan ada Ian yang sedang menungguku.
“Kamu baik-baik saja Siti ?” tanya Ian.
“Emang aku kenapa kok ada disini?” balas aku.
“Kamu itu pingsan tadi sekitar satu jam lebih lah,” ucap Ian dengan raut muka sedikit khawatir “Tapi untungnya kamu udah sadar” sambungnya.
“Terus, kamu kenapa disini?” ucap aku dengan raut muka bingung sekaligus senang, jarang-jarang kan hanya berdua di dalam satu ruangan, terus sewaktu aku tidak sadar, dan seketika…eitt don’t negative thinking dulu yak.
“Nungguin kamu sadar,” ucap Ian sembari memberikan tas ranselku “Udah cepetan yuk kita langsung pulang, merepotkan” ucap Ian menghela nafas dengan berat.
“Loh kok pulang, emang kita gak belajar? Oia ya, biasanya kan gak belajar jugak kalau hari guru”. Aku yang bertanya kok aku juga yang menjawab batinku. Ian beranjak keluar ruangan sambil menggelengkan kepalanya, sedangkan aku mengekor dari belakang dengan kepala sedikit pusing.
“Eh Ian, tunggu aku, kencang banget sih jalannya” ucap aku dengan sedikit kesal.
Langsung kami pulang. Kali ini untungnya aku gak nunggu dia di tempat biasa, aku masih merasakan sakit kepala dan badanku agak lemas. Sewaktu aku jalan sendiri ke parkiran karena ditinggal oleh Ian yang langkahnya super besar itu, dia sudah ada menunggu aku di sana dan menyuruhku langsung naik. Untung saja siswa tidak rame. Kami melaju dengan kencangnya. Dia memberikan helm padaku, dan bernajaklah kami dari tempat itu. Pulang ke rumah. Cuss.

To be continued...


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Definition LIiterature According to Experts

Part of Pure Linguistics - Morphology

Definition of Prose According to Expert